Minggu, 30 Maret 2014

RESENSI BUKU


“ Paradigma  Kaum  Tertindas “
Karya : Dr. ‘Ali Syari’ati

Perjuangan untuk selalu dan terus melawan segala bentuk penindasan, ketidakadilan, dan perbudakan yang dilakukan golongan penguasa yang penuh ambisi jahat selalu menjadiconcern Syari’ati. Ali Syari’ati adalah seorang figur revolusioner yang dengan senyum pahitnya, selalu mengecam para  intelektual yang tidak memiliki keberanian untuk menghujat para koruptor bahkan ikut serta didalamnya, dan mengkritik para penganut agama yang memahami substansi agama hanya sebatas simbol lahiriah dan mengecam para tokoh agama yang menjadikan agamanya sebagai legitimasi kekuasaan yang korup dan penindas. 
Dalam bukunya kali ini Syaria’ti mencoba menawarkan sebuah analisis sosiologis, filisofis, dan historis dalam kerangka pandangan hidup tauhid. Pandangan hidup yang menyatukan antara Allah, alam, dan manusia. Pandangan hidup yang menolak pembedaaan antara ruh dan badan, agama dan politik, proletar dan borjuis. Pandangan hidup tauhid yang menolak pandangan hidup syirik yang ditandai dengan diskriminasi ras dan penindasan terhadap golongan lemah, dalam buku terbarunya Paradigma Kaum Tertindas. 
Pembahasan dalam buku ini di bagi atas beberapa bagian. Bagian pertama, membahas mengenai bagaimana cara memahami islam secara lebih komprehensif dan terintegrasi.Kedua, membahas mengenahi konsepsi manusia menurut doktrin islam. Ketiga, bagaimana memahami  antropologi manusia konsep Allah-Iblis dan Ruh-Lempung dalam diri manusia melalui kerangka pandangan hidup tauhid. Keempat, filasafat sejarah terhadap cerita Al-Qur’an mengenai Qabil dan Habil dan relasinya terhadap kondisi masyarakat kontemporer serta konsepsi masyarkat dan manusia ideal. Kelima, komparasi mengenahi sosok Muhammad dengan nabi-nabi semit maupun nabi-nabi lainnya.     
Syari’ati sebagi seorang figur yang senantiasa mengkritik orang-orang yang memahami ajaran agamanya secara sempit dan mengklaim pemahamannyalah yang paling benar, menawarkan sebuah metode pengenalan dan pemahaman ajaran-ajaran agama secara obyektif dan komprehensif yaitu dengan metode komparasi dimana para penganut ajaran agama tertentu mencoba mengenal, mengkaji dan memahami baik secara personal maupun dialogis: Tuhan yang di sembah, Kitab suci yang  dijadikan referensi, figur nabi dan rasul yang membawa dan menyampaikan risalah Tuhannya, dan tokoh-tokoh besar produk dari agama tersebut. Kemudian membandingkan dengan Tuhan, Kitab suci, Nabi dan Rasul, dan tokoh-tokoh besar produk agama-agama lain.
Dalam mencoba mengkaji dan memahami ajaran agama islam, sebagai seorang sosiolog dan sejarahwan, Syari’ati mencoba memberikan sebuah pendekatan lain dalam memahami  islam sebagai agama yang mengatur semua dimensi manusia dan alam, dimana Al-Qur’an sebagai kitab suci yang merangkum semua ajaran Allah dikaji dengan analisis sosiologi dan historis. Dari hasil pengkajiannya syaria’ati menemukan konsep baru tentang dimensi sosial manusia yang selama ini belum pernah dikaji, di dalam Al-Qur’an yaitu salah satunya adalah mengenai hijrah, sebuah konsep filasafat sosial yang mendalam, luhur, dan baru. Konsep yang menawarkan kepada manusia teori baru tentang keberhasilan sebuah peradaban dalam kerangka sejarah, sosiologi dan humaniora, dimana suatu peradaban akan mengalami kejayaan jika mereka melakukan hijrah dan menetap di sebuah negeri baru. Fakta sejarah telah banyak membuktikan teori ini mulai dari peradaban tertua Sumeria sampai peradaban terbaru Amerika yang saat ini sedang mengalami kejayaan. 
Salah satu pandangan dan penafsiran syari’ati yang cukup menarik dengan pendekatan sosiologis dan historis dalam penafsiran Al-Qu’an adalah mengenahi penciptaan Adam dan Hawa (QS.55:14, dan QS: 15:26). Adam sebagai simbol manusia pertama merupakan perpaduan antara Ruh Allah yang maha tinggi , maha sempurna dan tidak terbatas dan lempung yang rendah. Manusia adalah dzat bidimensional, dimana dimensi yang satu cenderung kepada kesempurnaan pemiliknya dan dimensi yang lain yang cenderung kepada lumpur, kerendahan, stagnasi dan immobilitas. Makhluk bidimensional yang lebih unggul dari makhluk Allah lainnya, dikarenakan pengetahuannya  akan “nama-nama” ( syaria’ati menafsirkan “nama-nama” ini sebagai “kebenaran ilmu Allah”, suatu kemampuan yang diberikan Allah kepada manusia untuk menangkap dan memahami serba kebenaran ilmiah yang inheren dalam dunia ) dan kesanggupannya untuk mengemban “amanah” (syari’ati menafsirkan “amanah” sebagai “ kehendak bebas ” , kemampuan manusia untuk memilih dan menentukan jalannya sendiri bahkan menentang naluri dan fitrahnya sendiri )  sebagai khalifah di bumi. Hal lain yang menarik dari penafsiran Syari’ati adalah mengenai penciptaan Hawa, penerjemahan dan penafsiran kejadian hawa dari tulang rusuk pria adalah sesuatu yang kurang tepat, kata yang dimaksud lebih tepat diartikan sebagai sifat atau disposisi, sehingga penafsiran ayat tersebut lebih tepat jika: “Telah kami ciptakan Hawa dari sifat dan disposisi yang sama dengan adam, pria dan wanita berasal dari diri yang sama”.
Suatu hasil telaah filasafat sejarah terhadap cerita-cerita Al-Qur’an lainnya yang selama ini belum dikaji dengan analis kontemporer adalah mengenahi kisah Qabil dan Habil. Kisah tragis pertarungan dua kutub yang terjadi sepanjang sejarah manusia, sosok Qabil sang pembunuh yang mewakili golongan penguasa tiran yang melakukan tekanan dan penindasan terhadap golongan lemah yang diwakili sosok Habil. Sistem Habil yang hidup pada zaman pengembalaan dimana semua sumber-sumber produksi digunakan  bersama, hidup secara bersama, penuh keikhlasan beragama, cinta kasih, dan kesabaran diganti oleh sistem Qabil dengan sistem pertaniannya, sistem yang melahirkan manusia-manusia serba kuasa dan keji yang melakukan penindasan, perbudakan, diskriminasi ras dan kelas. Sistem yang memberikan hak milik tanpa batas kepada perseorangan dimana ditempat yang lain orang sedang mengalami kelaparan. Pembunuhan Habil oleh Qabil merupakan sebuah tafsir sosial yang sangat ilmiah dan sosiologis dimana sistem kebersamaan dan persaudaraan digantikan oleh sistem penindasan yang sangat korup.
Pertarungan abadi sepanjang sejarah manusia, yang akan diakhiri dengan kematian Qabil dan hidupnya lagi sistem Habil ( QS 25:5 ) dimana akan terbentuk suatu sistem sosial yang penuh dengan keadilan, sebuah sitem politk  dan pemerintahan yang mengedepankan demokrasi, tapi bukan demokrasi dengan perhitungan kepala, bukan liberalisme tanpa tanggungjawab, bukan aristokrasi busuk, bukan fasisme, dan bukan kediktatoran yang anti rakyat tetapi kesucian kepemimpinan, kepemimpinan yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaanya. Kepemimpinan seorang pemimpin yang telah memenangkan dirinya dari lempung dan iblis, pemimpin yang berakhlaq dengan akhlaq Allah, seorang pemimpin yang selalu berdiri dengan pedang Caesarnya siap untuk menghancurkan segala bentuk kezaliman, yang didadanya bermukim hati Yesus yang penuh welas asih, dengan otak Socrates yang mampu berfikir untuk memberi solusi atas segala permasalahan umat dan seorang pemimpin yang cintanya kepada Allah dengan cinta Al-Hallaj.
Dengan analisinya yang sangat mendalam tentang fenomena historis dan sosiologis dalam doktrin agama membuat buku karya Syari’ati ini, menjadi bacaan wajib bagi para pembaca yang mau berfikir secara metodologis dan komprehensif.



justan, 29 maret 2014


Selasa, 25 Maret 2014

nama : justan a. noreng

mahasiswa UNISSULA
HMI komisariat agama islam sultan agung semarang

Assalamualaikum wr wb
GAGASAN PERUBAHAN MENUJU LEMBAGA PERADABAN
Merujuk pada definisi peradaban,dapat kita simpulkan bahwa struktur sebuah peradaban dibangun atas 3 dimensi; yaitu manusia,tanah dan waktu.demikian pendapat malik bin nabi.struktur yang paling penting dari ketiga bangunan peradaban diatas adalah unsur manusianya.manusia adalah pelaku peradaban,sedangkan tanah adalah medan peradaban dari aktivitas-aktivitas manusia,sementara waktu adalah alokasi kerja dalam proses membangun peradaban.

Jika manusia merupakan unsur yang paling fundamental dalam sebuah peradaban,maka langkah apapun bagi terwujudnya sebuah perdaban tidak akan penah terealisaikan jika mengabaikan pendidikan dan pembinaan atau memanusiakan manusia.konsep manusia didalam suatu lembaga,sangat begitu jelas.dengan penjelsaan ini,para aktivis memiliki landasan konseptual tentang bagaimana seharusnya mendidik manusia.seperti pepata mengatakan bahwa “manusia itu seperti tambang emas dan perak,yang terbaik pada zaman jahiliyah,itupulalah yang akan menjadi terbaik kepada zaman peradaban,asalkan kita memahami.
Jadi,tugas utama kampus peradaban adalah melahirkan manusia yang berkualitas pada aspek pemikiran yang kaitan dengan moralitas. Pembinaan pada ketiga dimensi di atas sejalan dengan teori perubahan social dan filsafat sejarah,bahwa perubahan bermula dari ide,keyakian dan berakhir dengan tindakan. Alhasil,kita berharap para alumni dari kampus ini harus memiliki kekayaan ide yang kuat,matang dan kemampuan mensosialisasikannya kepada masyarakat sehingga masyarakat dengan kesadaran yang tinggi bergerak dan bertindak secara kolektif melakukan kerja-kerja dan mendistribusikan peradaban. Inilah yang disebut oleh ibnu khaldun dengan ashabiyyah (solidaritas social).
Dengan demikian,secara konseptual sebenarnay kampus peradaban ini telah rill dan ada. Yang harus kita lakukan adalah melakukan revitalisasi peran mahasiswa dalam membangun peradaban kempus. Paradigm itu harus mengakar pada kesadaran akan visi-misi eksistensi kita sebagai seorang mahasiswa dan secara individu bertanggungjawab di hadapan masyarjkat.

"Berpikir dan bertindak adalah pembuktian kata-kata.
Menebar bakti menuai simpati.
Bangkit melawan atau tunduk tertindas karena mundur adalah pengkhianatan."

tanggungjawab sang intelektual

Nama : Justan Noreng
Mahasiswa UNISSULA
HMI Komisariat Islam Sultan Agung Semarang

  "Tanggungjawab sang intelektual muslim"

Mahasiswa sering diidentifikasikan sebagai kaum penggerak perubahan atau agent of change. Apabila berbicara mengenai mahasiswa, sudah pasti kita terbayang sosok tubuh muda yang sedang berada di menara gading dan mempunyai daya intelektual yang tinggi. Mahasiswa memiliki karakter idealis. Apa yang dimaksudkan dengan idealis ialah mahasiswa masih belum dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, juga belum terbebani oleh beban sejarah atau beban tanggungjawab dan jawatan. Artinya mahasiswa masih bebas menempatkan diri pada posisi yang dia anggap terbaik, tanpa adanya percampuran dan bebanan yang terlalu besar. Sehingga dengan demikian mahasiswa memiliki peran setrategis dalam melakukan perubahan masyarakat yang lebih baik.
Identifikasi yang diberikan kepada mahasiswa diatas sangatlah wajar, mengingat perjalanan sejarah bangsa Indonesia, mahasiswa turut serta mengukirnya. Mahasiswa mengiringi perubahan-perubahan masyarakat (bahkan menjadi aktornya) dari mulai sebelum kemerdekaan yakni akhir abad 19 dengan situasi politik etis, setelah kemerdekaan atau masa orde lama, masa orde baru dan bahkan ketika reformasi digulirkan pada tahun 1998. Semangat muda semangat melakukan perubahan yang dimiliki mahasiswa memberikan catatan sejarah bahwa hadirnya mahasiswa disetiap perubahan ialah kemelekatan terhadap status mahasiswa itu sendiri.
Namun, ketika melihat kondisi mahasiswa saat ini yang cenderung lebih indifidualis atau bisa dibilang kurang peka terhadap sosial masyarakat membuat sebutan mahasiswa sebagai agent of change perlu ditilik kembali. Kepekaan sosial itulah yang membangun suatu kesadaran untuk melakukan perubahan. Ketika kondisi masyarakat dianggap tidak baik, tidak ideal, penuh kesengsaraan misalnya maka mahasiswa yang peka secara sadar akan melakukan perubahan di dalam masyarakat itu. Akan tetapi bagaimana caranya mahasiswa menjadi agen penggerak perubahan jika tidak peka dan mempunyai kesadaran. Itulah realitas yang terjadi pada mahasiswa saat ini, kurang peka terhadap kondisi masyarakatnya sehingga kesadaran dalam melakukan perubahan sangat sedikit.
Mahasiswa yang notabennya aktor penggerak perubahan justru larut dalam perubahan itu. Bahkan menurut pemateri, gerakan-gerakan perubahan yang seharusnya dipikul di pundak mahasiswa, saat ini diambil alih oleh para buruh dan petani. Buruh dan petani apabila kita lihat dari kapasitasnya secara intelektual, mereka kalah dengan mahasiswa. Mahasiswa terdidik sedangkan buruh dan petani merupakan kelompok masyarakat kelas bawah. Hal tersebut merupakan sebuah kemunduran dari mahasiswa. Tidak bermaksud meremehkan gerakan buruh, namun mahasiswa yang lebih memiliki akses pendidikan, jaringan dan faktor lain yang mendukung perubahan seharusnya menjadikan mahasiswa sebagai pelopor. Karena ketidakpekaan itulah yang membuat mahasiswa lupa akan tanggungjawabnya, sehingga gerakan perubahan diambil alih oleh buruh dan petani.
Sebelumnya kita perlu ketahui bahwa universitas sebagai lembaga yang menempa mahasiswa mempunyai beberapa jenis produk alumni yang dihasilkan. Pertama ialah sarjana, setiap mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas maka secara otomatis gelar sarjana pun didapatkan. Namun apa cukup hanya memiliki status sarjana? Padahal sesuai dengan sumpah baktinya ketika diwisuda yakni akan mendarma bakhtikan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat. Maka munculah ilmuan, yang kedua ini juga produk alumni universitas. Namun ilmuan ialah orang yang tidak sekedar mendapatkan gelar kesarjanaan, mereka ahli dalam bidang keilmuan yang kemudian berupaya menjelaskan pengetahuan dari keilmuannya untuk masyarakat.
Ketiga yakni cendikiawan menurut Dr. Ali Shariati adalah orang yang secara sadar membela kepentingan kaum tertindas musthadafien dan kaum terpinggirkan. Ia dapat berbicara dengan kaumnya, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti kaumnya sehingga membakar semangat perjuangan mereka. Cendekiawan tidak hanya berhenti dalam mengambil kesimpulan terhadap fenomena yang ada namun juga berani mengambil sikap terhadap sebuah persoalan. Ilmuwan hanya menilai fakta, sementara cendekiawan telah sampai pada tahap menentukan nilai dan bersikap. Sedangkan intelektual sendiri menurut Antonio Gramsci, pemikir dari Italia dengan konsep intelektual organiknya dimana ia adalah intelektual yang membersamai rakyat, menyatu dan memahami permasalahan masyarakat serta membela kepentingan-kepentingan rakyat. Artinya tidak hanya memiliki pengetahuan dan menjelaskannya akan tetapi menggunakannya untuk kepentingan masyarakat.
Lebih jauh, tokoh revolusi Islam Ali Syariati menegaskan intelektual harus memainkan peran strategis mencerahkan lapisan masyarakat yang tertinggal. Ali Syariati mengungkap tugas intelektual adalah sebagai Rausyan Fikr, mencerahkan lapisan masyarakat yang terpinggirkan. Sehingga upaya advokasi kebijakan secara vertikal dan pencerdasan secara horizontal merupakan usaha pengentasan rakyat dari penindasan, kondisi terpinggirkan, pembodohan dan kebodohan secara berkelanjutan. Dan pada akhirnya bukanlah tidak mungkin kondisi yang diidealkan dalam konsep Civil Society atau masyarakat sipil bisa tercapai.
Sebagai mahasiswa Islam tentu memiliki peran dan tanggungjawab yang cukup besar baik sebagai intelektual ataupun seorang cendikiawan muslim. Sebagai intelektual dan cendikiawan muslim, mahasiswa Islam haruslah sadar akan hak dan kewajibannya sebagai seorang muslim dan seorang mahasiswa yang mempunyai peran dan tanggunggjawab kepada umat manusia yakni memberikan dharma bhaktinya untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa Islam yang menjadikan nilai islam sebagai sumber nilai. Sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan serta bersifat independen, tujuan HMI jelas yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang benafaskan islam dan betanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala. Disamping itu HMI juga sadar mengakui bahwa dengan melihat realitas bangsa Indonesia yang kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup antara pemenuhan tugas duniawi dan uhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat sehingga peranan kaum intelektual sangat besar dan merupakan kebutuhan paling mendasar untuk masa depan.
Lima kualitas insan cita, insan akademis, pencipta, pengabdi, insan bernafaskan Islam dan insan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah subhanahuwata’ala, kesemua itulah yang menjadi tujuan HMI dalam melakukan kaderisasi. Disamping itu untuk memberikan wadah dalam berbagai kekaryaan dan minat bakat maka dibentuklah lembaga-lembaga profesi seperti LKMI, LAPMI dan sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut dibentuk dengan tujuan menciptakan dan mempersiapkan kader-kader yang profesional. Hal itu merupakan usaha-usaha yang dilakukan HMI demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah Subhanahu wata’ala.
Realitas yang terjadi saat ini dimana lembaga kekaryaan HMI yang kurang maksimal peranannya terlebih dalam peran praksis, membuat HMI seolah mengalami kemunduran dalam hal kekaryaan. Profesionalitas HMI utamanya untuk peran praksis di masyarakat, sebenarnya dapat ditunjang melalui lembaga-lembaga itu. Maka yang seharusnya dilakukan ialah mengembangkan kembali lembaga kekaryaan. Disamping untuk meningkatkan profesionalitas, lembaga kekaryaan HMI digunakan untuk srategi dalam mendekatkan HMI kepada masyarakat. Tentu berarti bisa dibilang lembaga kekaryaan HMI juga menjadi ujung tombak atau secara langsung berhadapan dengan masyarakat. Upaya tersebut juga sebagai usaha untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui lembaga kekaryaan.
Kultur keilmuan dan intelektual HMI yang telah dimiliki HMI tetap harus dijaga dan dipertahankan. Disamping itu kekaryaan atau produk HMI yang bisa digunakan secara langsung oleh masyarakat juga harus ditingkatkan. Wadah-wadah pengabdian HMI untuk masyarakat haruslah dihidupkan dan dikembangkan. Harapannya konsep “ intelektual community ” yang dibangun melalui usaha-usaha efesien dan efektif dalam melakukan kaderisasi akan mampu menciptakan cendikiawan-cendikiawan Islam. Serta HMI yakin bahwa akan dapat mencapai lima kualitas HMI yakni insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridoi Allah Subhanahuwata’ala. Tentu semuanya saling berkaitan satu sama lain dalam keterwujudannya.

"YAKIN USAHA SAMPAI"

PERAN DAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL MAHASISWA

Nama : Justan A. Noreng
Mahasiswa Unissula
Jurusan Syari;ah
HMI Komisariat Agama Islam 
 
“Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa”

Dalam sejarah, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan cendekiawan  sebagai Negara Hukum. Konsekuensinya adalah konsistensi terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan secara universal, baik itu adil dalam pembangunan nasional, penegakan hukum dan sebagainya termasuk penindakan terhadap para pelaku korupsi. Tetapi realitasnya sekarang banyak problem yang terjadi di negri ini yang  bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang universal tersebut ? Korupsi merajalela, masyarakat sekarang disuguhkan pada berita-berita korupsi pejabat pemerintah baik level pusat maupun daerah. Tindakan inkonsistensi pemimpin-pemimpin yang seharusnya menjadi teladan pun banyak yang menjadi actor atas problem tersebut.
Agaknya, politiklah yang sekarang menjadi panglima dalam setiap sendi kehidupan di negri ini, bukan lagi hukum. Hukum dari zaman ke zaman mulai mengalami ketumpulan. Hukum itu seakan tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Banyak kaum proletar justru menjadi korban  sedangkan kaum elite di negri ini selalu berpikir pragmatis dalam menyelesaikan perkara yaitu dengan jalur politik, ketimbang jalur hukum. Tampaknya memang negara hukum itu sudah beralih menjadi negara politik, lebih tetapnya negera politik kekuasan hingga hukum pun yang bersikap mutlak dan pasti, dipolitisi untuk mendapatkan kekuasan itu.
Melihat kondisi Indonesia pasca reformasi, sama seperti kondisi di United Kingdom pasca perang saudara (civil war) yang terjadi pada tahun 1600-an. Selain para Penguasa yang bertindak semena-mena dengan manuver-manuver politiknya, sementara orang ‘sehat’ dan ‘sakit jiwa’ sama-sama bisa bicara sehingga kini Indonesia kehilangan figur keteladanan yang pada akhirnya negeri ini diliputi oleh gelombang skeptisisme massal. Jika saat itu United Kingdom memerlukan figur yang kuat seperi Oliver Cromwell sebagai Lord of Protector UK.  maka siapakah yang bisa mengambil peran Lord of Protector di Indonesia dengan kondisi seperti saat ini ? Jawabannya adalah mahasiswa dan kaum muda lainnya yang seharusnya bisa mengambil peran tersebut, dengan segala disiplin ilmu dan integritas yang tertanam dalam dirinya maka Indonesia akan bangkit.
Dalam gerbang pintu masuk kota Andalusia tertulis bahwa untuk membangun sebuah peradaban gemilang, maka diperlukan empat komponen penyusunnya, meliputi: kebijakan para ilmuan, kearifan para penguasa, keberanian para kesatria dan doa orang-orang yang salih. Mahasiswa sebagai tulang punggung dan kaum intelektual bangsa, dalam konteks yang lebih luas sudah seharusnya bisa mengambil keempat peranan dalam membangun sebuah peradaban yang luhur tersebut. Dengan segala disiplin ilmu yang digeluti di dunia kampus maupun kemasyarakatannya, mahasiswa mampu menelurkan ilmu-ilmu tersebut dalam sebuah karya-karya nyata untuk membangun kesejahteraan ummat manusia. Ambil contoh adalah dengan program-program Community Development yang dikembangkan di masyarakat sekitar, misal dalam bidang produksi pertanian ataupun peternakan, mahasiswa bisa mengambil peran untuk memberikan inovasi-inovasi dan terobosan baru agar proses produski bisa mencapai hasil yang maksimal. Dan karena dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya, mahasiswa sudah seharusnya mampu mengkonstruksi paradigma yang bijak. Dengan ilmunya mahasiswa dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil, dan bisa menyuarakannya ke lapisan masyarakat, sehingga iklim kearifan itu akan muncul dalam setiap sendi kehidupan. Sebagai intelectual community, mahasiswa memiliki posisi yang strategis dalam keterlibatannya melakukan rekayasa sosial menuju pada independensi masyarakat, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya.
Kebenaran dan keadilan adalah nilai-nilai universal, dan setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai tersebut. Keadilan akan mudah tercapai, kebenaran itu pasti akan menang dan integritas itu akan tertanam di setiap sanubari rakyat Indonesia asalkan nilai-nilai tersebut bisa disuarakan dan ditransparansikan. Sekali lagi, karena setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai luhur tersebut. Disuarakan yakni sebelumnya harus dibenamkan dalam diri pribadi kemudian disebarkan ke orang lain, sedangkan ditransparansikan dalam artian “tidak ada dusta diantara kita”. Maka inilah moral commitment mahasiswa. Mulai dari diri mahasiswa, mereka menggenggam erat nilai-nilai luhur tersebut. Kemudian dari sini mahasiswa belajar untuk menyuarakannya agar nilai-nilai tersebut bisa diterima oleh khalayak dan bisa ditransparansikan.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa mulai belajar untuk mengambil peranan kepemimpinan di berbagai sektor. Adanya semangat dan tekad yang membara serta didikan alam yang melahirkan insan-insan ideologis, akan menjadi aset penting bangsa yang nantinya akan menempati pos-pos kepemimpinan di negeri ini. Semangat dan ideologi yang kuat itu dimasa seakrang menjelma sebagai kekuatan untuk mmengontrol kebijakan-kebijakan publik yang ada, sehingga manakala ada kebijakan publik yang menyeleweng, mahasiswa dapat mengambil andil untuk mengklarifikasi dan mengusahakan adanya sebuah kebenaran dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena mahasiswa adalah kesatria, yang mesti siap membela manakala ada hak-hak rakyat yang tertindas di negrinya.
Satu komponen terpenting bagi mahsiswa sekarang adalah melawan atas tindakna dan kebijakan yang menjadi penyakit bagi masyarakat Indonesia. Marilah kita satukan visi dan  misi tuk menembus kesejahteraan dan keadilan social yang  di ridhoi oleh Allah SWT.
“Bangkit melawan
Tunduk tertindas
Karena mundur adalah pengkhianatan.”