Nama : Justan A. Noreng
Mahasiswa Unissula
Jurusan Syari;ah
HMI Komisariat Agama Islam
“Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa”
Dalam
sejarah, Indonesia dibangun oleh para pemikir dan cendekiawan sebagai
Negara Hukum. Konsekuensinya adalah konsistensi terhadap nilai-nilai
kebenaran dan keadilan secara universal, baik itu adil dalam pembangunan
nasional, penegakan hukum dan sebagainya termasuk penindakan terhadap
para pelaku korupsi. Tetapi realitasnya sekarang banyak problem yang
terjadi di negri ini yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan
keadilan yang universal tersebut ? Korupsi merajalela, masyarakat
sekarang disuguhkan pada berita-berita korupsi pejabat pemerintah baik
level pusat maupun daerah. Tindakan inkonsistensi pemimpin-pemimpin yang
seharusnya menjadi teladan pun banyak yang menjadi actor atas problem
tersebut.
Agaknya, politiklah yang sekarang menjadi panglima dalam
setiap sendi kehidupan di negri ini, bukan lagi hukum. Hukum dari zaman
ke zaman mulai mengalami ketumpulan. Hukum itu seakan tumpul ke atas dan
runcing ke bawah. Banyak kaum proletar justru menjadi korban sedangkan
kaum elite di negri ini selalu berpikir pragmatis dalam menyelesaikan
perkara yaitu dengan jalur politik, ketimbang jalur hukum. Tampaknya
memang negara hukum itu sudah beralih menjadi negara politik, lebih
tetapnya negera politik kekuasan hingga hukum pun yang bersikap mutlak
dan pasti, dipolitisi untuk mendapatkan kekuasan itu.
Melihat kondisi
Indonesia pasca reformasi, sama seperti kondisi di United Kingdom pasca
perang saudara (civil war) yang terjadi pada tahun 1600-an. Selain para
Penguasa yang bertindak semena-mena dengan manuver-manuver politiknya,
sementara orang ‘sehat’ dan ‘sakit jiwa’ sama-sama bisa bicara sehingga
kini Indonesia kehilangan figur keteladanan yang pada akhirnya negeri
ini diliputi oleh gelombang skeptisisme massal. Jika saat itu United
Kingdom memerlukan figur yang kuat seperi Oliver Cromwell sebagai Lord
of Protector UK. maka siapakah yang bisa mengambil peran Lord of
Protector di Indonesia dengan kondisi seperti saat ini ? Jawabannya
adalah mahasiswa dan kaum muda lainnya yang seharusnya bisa mengambil
peran tersebut, dengan segala disiplin ilmu dan integritas yang tertanam
dalam dirinya maka Indonesia akan bangkit.
Dalam gerbang pintu masuk
kota Andalusia tertulis bahwa untuk membangun sebuah peradaban
gemilang, maka diperlukan empat komponen penyusunnya, meliputi:
kebijakan para ilmuan, kearifan para penguasa, keberanian para kesatria
dan doa orang-orang yang salih. Mahasiswa sebagai tulang punggung dan
kaum intelektual bangsa, dalam konteks yang lebih luas sudah seharusnya
bisa mengambil keempat peranan dalam membangun sebuah peradaban yang
luhur tersebut. Dengan segala disiplin ilmu yang digeluti di dunia
kampus maupun kemasyarakatannya, mahasiswa mampu menelurkan ilmu-ilmu
tersebut dalam sebuah karya-karya nyata untuk membangun kesejahteraan
ummat manusia. Ambil contoh adalah dengan program-program Community
Development yang dikembangkan di masyarakat sekitar, misal dalam bidang
produksi pertanian ataupun peternakan, mahasiswa bisa mengambil peran
untuk memberikan inovasi-inovasi dan terobosan baru agar proses produski
bisa mencapai hasil yang maksimal. Dan karena dengan ilmu-ilmu yang
dimilikinya, mahasiswa sudah seharusnya mampu mengkonstruksi paradigma
yang bijak. Dengan ilmunya mahasiswa dapat membedakan mana yang haq dan
mana yang batil, dan bisa menyuarakannya ke lapisan masyarakat, sehingga
iklim kearifan itu akan muncul dalam setiap sendi kehidupan. Sebagai
intelectual community, mahasiswa memiliki posisi yang strategis dalam
keterlibatannya melakukan rekayasa sosial menuju pada independensi
masyarakat, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya.
Kebenaran
dan keadilan adalah nilai-nilai universal, dan setiap manusia memiliki
hati nurani yang senada dengan nilai-nilai tersebut. Keadilan akan mudah
tercapai, kebenaran itu pasti akan menang dan integritas itu akan
tertanam di setiap sanubari rakyat Indonesia asalkan nilai-nilai
tersebut bisa disuarakan dan ditransparansikan. Sekali lagi, karena
setiap manusia memiliki hati nurani yang senada dengan nilai-nilai luhur
tersebut. Disuarakan yakni sebelumnya harus dibenamkan dalam diri
pribadi kemudian disebarkan ke orang lain, sedangkan ditransparansikan
dalam artian “tidak ada dusta diantara kita”. Maka inilah moral
commitment mahasiswa. Mulai dari diri mahasiswa, mereka menggenggam erat
nilai-nilai luhur tersebut. Kemudian dari sini mahasiswa belajar untuk
menyuarakannya agar nilai-nilai tersebut bisa diterima oleh khalayak dan
bisa ditransparansikan.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa mulai
belajar untuk mengambil peranan kepemimpinan di berbagai sektor. Adanya
semangat dan tekad yang membara serta didikan alam yang melahirkan
insan-insan ideologis, akan menjadi aset penting bangsa yang nantinya
akan menempati pos-pos kepemimpinan di negeri ini. Semangat dan ideologi
yang kuat itu dimasa seakrang menjelma sebagai kekuatan untuk
mmengontrol kebijakan-kebijakan publik yang ada, sehingga manakala ada
kebijakan publik yang menyeleweng, mahasiswa dapat mengambil andil untuk
mengklarifikasi dan mengusahakan adanya sebuah kebenaran dan keadilan
bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena mahasiswa adalah kesatria, yang
mesti siap membela manakala ada hak-hak rakyat yang tertindas di
negrinya.
Satu komponen terpenting bagi mahsiswa sekarang adalah
melawan atas tindakna dan kebijakan yang menjadi penyakit bagi
masyarakat Indonesia. Marilah kita satukan visi dan misi tuk menembus
kesejahteraan dan keadilan social yang di ridhoi oleh Allah SWT.
“Bangkit melawan
Tunduk tertindas
Karena mundur adalah pengkhianatan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar